Wy/id/Chennai

From Wikimedia Incubator
< Wy‎ | idWy > id > Chennai
Jump to navigation Jump to search

Saya kebetulan pernah singgah ke Chennai, yang nama lamanya adalah Madras, dalam perjalanan saya ke Tamil Nadu di India. Kota ini cukup unik, dan saya sempat berkunjung ke satu lokasi yang sangat menarik.

Yang pertama, Madras terkenal dengan kawasan pantainya. Chennai terletak di kawasan pantai Coromandel dan memiliki pantai yang cukup panjang, tetapi tidak bisa berenang karena arusnya cukup kuat. Memang, banyak buku pemandu wisata waktu itu menyarankan turis mengunjungi pantai, dan Anda boleh saja kesana, kelihatannya cukup bagus. Waktu itu waktu saya cukup sempit, dan dari fotonya... well, sombong dikit deh sebagai orang Indonesia... ya susah cari pantai yang lebih bagus dari pantai-pantai di negri sendiri, hehehe. Karena saya takut kecewa, saya jadi tidak mampir ke pantai Chennai.

Tapi, ada satu tujuan wisata yang menarik yaitu Bukit Santo Thomas. Waktu saya di India, orang India selalu bangga berkata bahwa subkontinen India adalah pusat agama-agama di dunia. Agama Buddha lahir di Utara, di Nepal. Agama Hindu tentu saja disini lahirnya. Agama Islam pun punya basis dan sejarah yang kuat disini, baik di India maupun Pakistan dan Bangladesh. Belum lagi agama Sikh, Jain, dan lain-lain yang memang lahir disini. Bagaimana dengan agama Kristen?

Rupanya, India juga adalah salah satu negara Asia pertama yang menerima agama Kristen, dan dari tangan pertama lagi, yaitu St. Thomas yang merupakan salah satu dari 12 murid Tuhan Yesus. Ini adalah St. Thomas yang sama, yang mencelupkan jarinya ke luka Tuhan Yesus sesudah peristiwa kebangkitan, karena beliau sebelumnya tidak percaya. Dari sinilah lahir ungkapan yang terkenal "Berbahagialah mereka yang tidak melihat tapi percaya".

Jadi, alkisah Santo Thomas pergi ke India dan datang ke wilayah Chennai kira-kira tahun 53 Masehi, berarti hanya sekitar 20 tahun saja sesudah peristiwa penyaliban Yesus. Dia tentu saja mendapat perlawanan dari masyarakat Tamil penduduk daerah situ, sampai ia menjadi martir ketika ditombak sampai mati di bukit ini. Jenazahnya dimakamkan di National Shrine of St. Thomas di kota Chennai - sebuah gereja yang patut dikunjungi juga, karena cuma ada 3 gereja yang didirikan diatas makam murid Yesus langsung, yakni Basilika Santo Petrus di Roma, Santiago de la Compostela di Spanyol yang dibangin diatas makam St. Yakobus, dan Chennai. Nggak nyangka ya, kok bisa di pojok sini ada yang beginian.

Jenasahnya sendiri sebenarnya sudah dipindah ke Roma, seperti juga jenasah St Franciscus Xaverius yang tadinya dimakamkan di Melaka, Malaysia kemudian dipindah ke Goa, India Barat kemudian dipindah lagi ke Roma.

Nah, saya nggak sempat ke gereja St. Thomas yang di kota, tetapi saya ke Bukit St. Thomas. Posisi Bukit St. Thomas ini terletak tinggi diatas kota, sehingga kalau Anda kesini pagi atau sore, pemandangan dari sini nampak indah. Terlihat keseluruhan kota Chennai, mungkin mirip kawasan Dago atas di Bandung tetapi kota Chennai ini di pantai semua jadi rata saja.

Saya naik taxi, biasa standar India berantem dulu tawar menawar, kemudian macet suracet sampai ke bukitnya. Bukit ini, amat kontras dengan suasana jalan India pada umumnya, begitu tenang dan damai. Di tempat parkir saya foto-foto kota Chennai sejenak, dan ada sebuah tugu menandai pintu masuknya dengan patung St. Thomas diatasnya memegang tombak. Secara tradisional, setiap patung murid Yesus memang digambarkan memegang senjata yang digunakan untuk kemartirannya. Saya ingat patung St. Thomas di Basilika St. Petrus yang saya lihat memegang tombak, saya benar-benar nggak nyangka bisa melihatnya disini. Patungnya sama sekali bukan gaya Romawi, tetapi bergaya India: bajunya merah menyala, tombaknya kuning emas, plus janggut tebal dan mata lebar.

Dari tempat parkir, ada tangga yang berliku-liku naik keatas. Pemandangan dari tangga sangat indah, kadang-kadang ada bagian hutan sedikit dengan pohon-pohon besar, mirip di Dago Pakar, lalu kadang-kadang terlihat lagi pemandangan ke Chennai yang makin cantik setiap ketinggian kita meningkat. Lalu, sesudah lumayan ngos-ngosan juga (jangan lupa bawa air mineral untuk minum)saya sampai di pelataran paling atas.

Jangan harap ada gereja raksasa disini! Ada dua kompleks seingat saya, yang satu bangunan gereja lebih besar berbentuk L di sebelah kiri, dan di sebelah kanan ada sebuah gereja kecil dengan salib berwarna merah di atas pintu masuknya. Gereja kecil ini artistekturnya portugis, dengan lengkungan atap dan jendela yang khas. Sangat sederhana. Di sebelah kiri sebelum pintu masuk, ada papan pengumuman, bahwa ada sebuah batu di dalam gereja yang pernah mengeluarkan tetesan darah terus-menerus selama puluhan tahun (dicatat tahunnya, detail sekali! Tapi lupa, nanti ya saya harus lihat fotonya dulu). Ternyata, betul Portugis yang membangun gereja ini, jauh sebelum Inggris datang.

Saya harus lepas sepatu sebelum masuk, seperti masuk kuil Hindu di India. Lalu, begitu masuk, suasana sunyi, dengan alunan orang yang bernyanyi seperti mengaji, atau mirip dengan chanting (bukan canting batik ya hehe) di kuil-kuil Hindu, lagu-lagu latin. Ruangannya atapnya rendah, bangunannya sederhana, tapi sudah sangat tua dan terpancar kuat aura kesuciannya.

Di sebelah kanan kiri (gak inget persis kanan atau kirinya ya), ada sebuah diorama, lagi-lagi ala India dengan warna-warni noraknya, peristiwa St. Thomas yang sedang memegang luka di tangan Tuhan Yesus. Lalu di sebelah kanannya, ada diorama mengenai martir (wafat sebagai orang suci) St. Thomas, diperlihatkan bagaimana dia mati diujung tombak penduduk sekitar.

Begitu masuk, strukturnya sih mirip kapel biasa. Di sebelah kiri ada patung seorang santo, di sebelah kanan ada patung Bunda Maria, juga ada satu patung Yesus. Tapi, ada perbedaan yang unik. Semua patungnya bukan ala Romawi, tapi ala India: patungnya berada di dalam sebuah kotak kaca, warna-warni, dan masing-masing dikalungi bunga tebal, dengan minyak wangi membasahi dasar kotak. Persis patung Vishnu di kuil-kuil Hindu India...

Seorang Santo tadi saya tidak mengenalinya, rupanya baru kemudian saya tahu itu adalah Santo Franciscus Xaverius, seorang Portugis yang membawa agama Kristen Katolik ke India, lalu kemudian juga ke Indonesia. Kaget juga saya, kok bisa ketemu disini...

Struktur depan gerejanya lagi-lagi mirip dengan kuil Hindu, bahkan suasananya juga. Ada kursi-kursi dimana orang duduk, tetapi pengunjung mengantri dari sisi kiri untuk ke depan, melihat relikwi St. Thomas di depan (benda suci dalam agama Katolik disebut relikwi). Di depan, orang tidak sekedar duduk berdoa, tapi bersujud, menyembah ke arah relikwi, dengan tangan terbuka, dan beberapa sambil menyanyi keras-keras, mirip sekali dengan suasana kuil Hindu Tamil dan tidak pernah saya temukan di gereja lain yang saya pernah lihat.

Sampai ke depan, saya hanya melihat relikwinya saja. Ternyata ada tiga benda yang dipertunjukkan disana. Di sebelah kiri, ada sebuah salib logam dengan gelas kaca di tengahnya, sebuah benda putih nampak diikat terendam minyak. Benda itu, konon adalah serpihan tulang St. Thomas sendiri yang disimpan disana. Di sebelah kanan, sebuah ikon gaya Byzantium, gambar Bunda Maria dan Bayi Yesus, konon diberikan oleh St. Lukas (bukan adiknya Matius, ini Lukas beneran hehe) kepada St. Thomas sebelum pergi ke India. Saya sih meragukan keasliannya karena gambar icon baru muncul ratusan tahun sesudah 52 Masehi.

Dan... di tengah terdapat sebuah batu, yang di depannya diukir sebentuk salib. Kecil sekali, mungkin 15 x 8 cm saja ukirannya. Desain salibnya kali ini benar, pendek dengan sisi ujung lebar dan lancip, sesuai dengan sejarah kronologisnya karena pada jaman itu pastilah belum ada simbol apa-apa selain salib dan ikan. Di tengah salib ada lubang kecil, dan konon dari lubang itulah menetes darah terus menerus sebagai simbol kesuciannya. Ukiran ini ditemukan di dalam gua dekat situ, dimana St. Thomas tinggal, dan konon diukir sendiri oleh St. Thomas. Gua itulah, secara de facto, gereja pertama di India. Batu ini, ditaburi bunga-bunga, dilingkari kalung bunga juga, ditemani lampu minyak, dan bagian bawahnya basah oleh minyak wangi.... persis sama perlakukannya dengan arca Ganesha di Kuil Hindu Tamil yang saya lihat sehari sebelumnya!

Yang saya kagumi dari tempat ini adalah kesederhanaannya. Basilika St. Petrus begitu megah, Santiago de la Compostela saya belum pernah lihat tapi dari fotonya sih megah juga, Piazza St. Marco di Venezia berbalur emas. Tapi Bukit St. Thomas ini begitu sederhana, begitu terserap oleh budaya sekitarnya. Ada simbol-simbol yang saya kenal seperti salib dan wajah para suci, tapi sisanya - ritualnya, caranya - berbeda jauh, merupakan akulturasi antara budaya India dengan agama Katolik. Beginilah seharusnya bukan? Bahwa agama bukan jadi menara gading yang serba indah saja, tetapi bisa jadi sederhana dan sahabat rakyat biasa.

Makanan[edit]

Chennai terletak di Tamil Nadu, jantungnya orang Tamil. Kebanyakan vegetarian, jadi tidak ada yang makan daging, dan setiap resto memajang 'veg' atau 'non-veg' seperti kita disini 'halal' atau tidak. Saya anjurkan jangan makan daging, karena di wilayah yang 80% vegetarian seperti disini, kualitas dagingnya pun buruk karena konsumennya sedikit. Yang veg banyak yang enak kok! Paling gampang pilih menu 'South Indian Tali', akan datang satu nampan besar beralaskan daun pisang dengan chapatti atau naan (roti a la India), lalu lengkap dengan mangkuk2 kecil warna-warni untuk pilihan lauknya - yellow curry, green curry, curd, dan sambhar. Makanan India paling top dah, pilih saja resto yang tradisional.

Kalau mau menyebut nama, ada satu yang saya ingat. Dimana-mana ada sih, di bandara juga ada, namanya Shri Krishna Sweets. Ini makanan khas Tamil, jajanan tepatnya. Kue-kue yang dibuat dari susu yang dikeringkan. Manisnya ancleeeeng tapi enak lho! Biasanya dicampur dengan kacang-kacangan atau dibentuk buah seperti apel-apelan. Nah, yang ini tidak ada di Indonesia. Wajib coba!

Kalau tahan jorok, bisa memesan halwa. Halwa adalah makanan yang dibuat dari basis susu juga, bentuknya seperti agar-agar, banyak yang jual sebagai asongan. Di tokonya bentuknya seonggok besar seukuran cake, lalu dipotong dan disodorkan oleh tangan tukangnya (dengan kuku hitam legam hihihi - merem saja lah!) ke tangan kita dan langsung dilahap dari tangan kita. Rasanya manis dengan tekstur lebih keras sedikit dari agar-agar, unik juga.

Sumber[edit]

Pranala luar[edit]