Wn/id/Mereka Hidup Tanpa Tuhan, Pengakuan Orang-orang Ateis di Indonesia

From Wikimedia Incubator
< Wn‎ | id
Wn > id > Mereka Hidup Tanpa Tuhan, Pengakuan Orang-orang Ateis di Indonesia

Ketika banyak orang di kota-kota besar Indonesia menempuh tikungan balik ke religi demi kedamaian pada era serba tak pasti, ada pula yang memilih menjadi ateis. Meski terdiskriminasi, mereka tetap hidup tanpa Tuhan.

MALAM MULAI TEMARAM selepas Magrib pergi, ketika seorang perempuan berambut pendek memasuki kedai kopi di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Senin (1/7/2019).

Tina, begitu perempuan itu ingin disapa, mengakui diri sebagai ateis. Dia tak memercayai keberadaan Tuhan. Baginya, institusi agama membuat tak nyaman untuk menjalani hidup.

“Aku tak lagi memercayai adanya Tuhan sejak dua tahun terakhir. Sepuluh tahun sebelumnya, aku menjadi orang agnostik.”

Agnostisisme adalah sikap yang menilai segala sesuatu berkenaan dengan Tuhan tak mungkin bisa dipahami, maka tak perlu dipikirkan.

Sikap hidup sebagai ateis menjadi pilihan terakhir ibu muda beranak satu ini. Awalnya, ia bergabung dengan komunitas Free-Thinker.

Free-Thinker secara umum adalah orang-orang yang berpikir bebas atau independen yang mengandalkan rasionalitas, sehingga tak mengakui otoritas apa pun. Free-Thinker menolak atau setidaknya bersikap skeptis terhadap dogma religi.

“Dalam komunitas Free-Thinker itu ada beragam orang dan sikap. Ada yang ateis, ada yang teis (percaya Tuhan), agnostik, beragama tapi moderat, dan sebagainya. Kami selalu berdiskusi tentang segala hal secara bebas,” tutur Tina.

Komunitas itu mensyaratkan semua anggota harus orang yang berpikiran terbuka. Tina bisa masuk komunitas itu karena diajak teman.

Tapi ia tak bisa menyebutkan nama komunitas Free-Thinker yang dimasukinya demi alasan keamanan.

Tina terlahir dari rahim seorang ibu Muslim di Kota Malang, Jawa Timur. Bapaknya berlatar keluarga yang memegang tradisi Nahdatul Ulama.

Sejak SMA, Tina menuturkan menyukai membaca banyak buku, terutama filsafat dan ideologi termasuk soal ateisme dan agnostisisme.

Berdasarkan buku yang ia baca dan berdiskusi, Tina mulai mengkritik dan mempertanyakan otoritas institusi keagamaan, tapi tetap memercayai keberadaan Tuhan.

Sejak bersekolah hingga berkuliah, ia juga mengakui berhijab sesuai syariat. Dia bahkan sempat mengikuti majelis kajian yang ketat.

Bergelut dengan beragam persoalan hidup yang terkadang pelik, Tina pernah memercayai agama adalah kunci untuk mendapatkan kedamaian.

Tapi lama kelamaan, Tina mengakui tak lagi merasa nyaman. Mulailah Tina mencari organisasi lain yang lepas dari hal keagamaan, hingga akhirnya bertemu kawan-kawannya yang mengikuti komunitas Free-Thinker.

“Aku merasa banyak celah pada agama yang tidak bisa dijawab secara akal sehat. Aku juga merasa mereka itu seperti memberikan harapan palsu. Atau semacam kamu disuruh percaya kepada sesuatu yang tidak ada,” kata Tina.

Tina mencontohkan, dirinya tak bisa menemukan jawaban ada orang yang menjual air minum karena dianggap memunyai kegaiban dan sebagainya.

Misalnya lagi, kata Tina, praktik poligami atau beristri lebih dari satu yang menurutnya tak logis dan merugikan perempuan.

Walau baru dua tahun terakhir benar-benar menjadi ateis, Tina mengakui sudah sejak lama tidak melaksanakan kegiatan peribadatan agamanya.

Kekinian, Tina tetap mengikuti kegiatan keagamaan setiap tahun, tapi ia memosisikannya sebatas budaya atau menjalani tradisi.

“Jadi aku melakukannya sebagai kegiatan sosial saja, setiap tahun masih ikut kegiatan agama sebagai tradisi keluarga,” ujar dia.

Tina menuturkan, keluarga besarnya tidak tahu kekinian ia sudah tak lagi beragama dan memercayai Tuhan.

Orang yang mengetahui dirinya ateis adalah mantan suami. Selain mantan suami, putra semata wayangnya juga tahu, tapi baru-baru ini saja.

“Keluarga enggak tahu kalau aku ateis, karena keluargaku sendiri berbeda kota, kami jarang bertemu. Keluargaku sejak dulu juga enggak pernah memaksakan harus mengikuti peribadahan. Cuma waktu aku sangat ekstrem, mengkritik agama dan Tuhan, mereka enggak bisa terima,” tutur dia.

Meski dirinya ateis, Tina tak pernah mengajak anaknya untuk ikut tidak beragama. Anaknya yang sudah duduk di bangku kelas 3 SD juga lebih banyak belajar agama Islam, baik di sekolah maupun ketika bersamanya.

Satu hal yang diajarkan Tina kepada anaknya, yakni agar sang buah hati bisa berpikir rasional, mengasah nalar berpikir kritis, dan bersikap terbuka terhadap segala hal serta perbedaan.

“Andai suatu saat anakku ingin menjadi apa saja, termasuk soal keyakinan spiritual, itu terserah dia.”

Sikapnya yang seperti itu berpangkal pada pengakuan Tina bahwa tak ada paksaan saat dirinya memilih menjadi ateis.

“Aku memilih menjadi ateis atas kesadaran dan rasionalitas,” kata Tina.

Komunitas ateis tempat Tina kekinian sering berkumpul pun bukanlah organisasi yang terstruktur dan hirarkis.

Mereka hanya kumpulan orang-orang yang berpikir terbuka dan bebas membahas atau mengkritik otoritas, termasuk soal keagamaan.

Ia dan rekan-rekan sekomunitasnya juga berkomunikasi dengan orang-orang ateis di luar negeri, namun tidak ada afiliasi secara organisasional.

Dalam komunitasnya, baik saat kopi darat maupun melalui sarana daring, Tina dan yang lain hanya saling berbagi keluh kesah.

Misalnya, ketika ada yang baru menjadi ateis dan bermasalah dengan keluarga, mereka saling membantu memberikan solusi.

Komunitas yang diikuti Tina juga sangat setia kawan. Bila ada di antara anggota yang bermasalah atau sakit, mereka saling bahu membahu membantu.

“Jadi lebih ke mendukung satu sama lain, yang lebih masuk akal, atau membuat acara pertemuan terutama soal bisnis. Dulu pernah dilakukan diskusi rutin mingguan, tapi sudah tak lagi jalan,” kata dia.

Tina membantah pandangan banyak orang yang menyebut ateis adalah tidak bermoral.

“Menurutku, orang ateis itu lebih punya empati. Kami dari berbagai macam profesi seperti dokter, guru, pengusaha, macam-macam, apakah tidak bermoral? Belum tentu,” tutur Tina.

Menurutnya, semakin banyak orang Indonesia yang menjadi ateis dan terkonsentrasi di kota-kota besar, yang relatif mudah mengakses segala pengetahuan baru.

”Ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Balikpapan, Padang, Medan, Aceh, Jambi, Palembang, dan juga Manado.”

Tina mengakui menjadi ateis masih tabu di Indonesia. Apalagi sejak tahun 2017, tatkala gelombang aksi dan sikap intoleran semakin pasang, kaum ateis seperti Tina diliputi rasa kekhawatiran.

Karenanya, Tina dan kawan-kawannya kekinian semakin tertutup dan selektif menerima orang baru untuk bergabung dalam grup mereka.

“Kami resah dan karena itu, kami benar-benar hati-hati berekspresi di hadapan publik, termasuk di dunia maya.”

Shinte Galeshka adalah seorang agnostik. Dia tinggal di Jakarta. Ia menuturkan, agnostisisme berbeda dengan ateisme.

Inti paham yang ia anut adalah, manusia tidak memunyai kapasitas melihat keberadaan entitas supranatural yang bernama Tuhan, jin, hantu dan lainnya.

Seorang agnostik hanya mendasarkan pada apa yang ia tahu, berbeda dengan ateis yang tidak meyakini adanya Tuhan.

Shinte terlahir dan besar dari keluarga beragama Katolik. Ia lantas berpendirian agnostis karena merasa tidak puas terhadap dogma-dogma Katolik.

Tapi sekarang, dirinya mengakui sudah tidak lagi peduli terhadap kegelisahannya tentang ajaran agama dan ketuhanan.

“Sudah tak lagi masalah buat saya, karena praktiknya, ada pula orang beragama tapi bisa mudah membunuh orang lain atas nama Tuhannya. Ada juga orang yang beragama dan berbuat baik. Maka, ada juga orang ateis atau agnostik yang seperti itu. Soal Tuhan? Saya mengakui tak tahu,” tutur Shinte.

Karena tak lagi memedulikan soal hal yang Ilahiah, Shinte tetap sering mengikuti kegiatan di gereja bersama keluarganya. Tapi semua itu ia lakukan bukan ditujukan untuk beribadah, melainan sebatas tradisi atau budaya.

“Buat saya, bagaimana pun juga, orang yang percaya Tuhan atau tidak, memunyai perjalanan spiritual sendiri-sendiri. Kalau saya sih melihatnya begitu. Saya sudah sampai pada titik di mana cuma merasa, oh saya tak punya kapasitas,” ujar dia.

Sarjana Ilmu Komputer Universitas Gunadarma ini mengakui, bisa berpendirian agnostik melalui pembelajarannya sendiri. Terutama dari membaca buku, hobi yang ia lakoni sejak kelas 5 SD hingga sekarang, saat berusia 30 tahun.

Berbagai buku ia baca, mulai bertema politik, sosial, budaya, teologi hingga filsafat. Namun, sudah empat tahun belakangan ia jarang baca buku dan jarang memikirkan soal spiritual.

Shinte kekinian lebih banyak belajar dari praktik sebagai orang yang aktif berorganisasi membela kelompok marginal.

Bagi dia, ilmu dan pengetahuan tak hanya dari buku, namun dari situasi konkret masyarkat.

“Nah, terkadang, pernyataan dari buku harus kita balikkan lagi ke kenyataan, dan sebaliknya, dari kenyataan berbalik ke buku, termasuk soal kepercayaan ketuhanan,” ucap Shinte.

Menurut dia, orang-orang agnostik seperti dirinya tidak berorganisasi. Kalaupun ada, cuma komunitas yang tidak terstruktur.

Namun, orang-orang agnostik dan ateis lebih banyak berinteraksi secara daring, melalui jejaring media sosial maupun aplikasi pesan singkat.

“Soal spiritual, bagi kami adalah hal pribadi. Jadi, paling saya dengan beberapa teman yang agnostik mengobrol melalui media sosial,” kata Shinte.

Penyebab Orang Menjadi Ateis[edit | edit source]

Berikut ini adalah penyebab orang menjadi ATEIS (TIDAK MENGENAL TUHAN atau TIDAK PERCAYA PADA TUHAN), yaitu:

Masalah Gadget Pada Anak[edit | edit source]

Interaksi dengan gadget lebih dari dua jam dalam sehari adalah waktu yang disarankan oleh para ahli. Namun, bagaimana jika anak ternyata sudah kecanduan gadget?

Apa tanda dari anak yang sudah kecanduan gadget? Dilansir dari purewow.com, Senin (5/8/2019), berikut ini adalah beberapa tanda anak yang kecanduan gadget, penasaran?

Kuantitas waktu[edit | edit source]

Para peneliti menemukan bahwa salah satu tanda dari anak yang kecanduan gadget adalah anak yang selalu berpikir tentang gadget. Contohnya adalah ketika pulang sekolah, hal pertama yang dicari anak adalah gadget dan ia menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadget mereka, daripada di kehidupan nyata.

Solusinya, buatlah anak sibuk. Buatlah aturan satu jam bermain di luar bersama keluarga setiap anak menghabiskan satu jam di depan gadget. Tunjukkan padanya bahwa kesenangan bisa didapatkan dari interaksi di dunia nyata.

Mengamuk[edit | edit source]

Tandanya adalah anak mengalami penurunan minat terhadap interaksi di dunia nyata. Anak menjadi memiliki reaksi yang berlebihan, agresif, cemas, dan tertekan.

Buatlah rencana keluarga dan tetapkan batasan yang jelas. Jika anak sedang bermain dan menyelesaikan suatu misi, biarkan hingga ia selesai, jangan direbut begitu saja, karena itu adalah perilaku yang menjengkelkan.

Menekan tanpa konsekuensi[edit | edit source]

Ini terjadi ketika anak memprioritaskan waktunya di depan gadget, daripada hal penting lainnya, seperti tidur, makan, dan menjaga kebersihan. Anak tidak lagi peduli dengan keterlibatannya di dunia nyata.

Solusinya, libatkan keluarga dalam penggunaan gadget anak. Tonton film atau baca artikel bersama-sama, lalu berdiskusi, dan tetapkan batasan yang jelas tentang waktu penggunaan gadget bagi seluruh anggota keluarga.

Rahasia[edit | edit source]

Anak menjadi bermain sembunyi-sembunyi denganmu. Mereka berjanji akan tidur di waktu tertentu, namun ternyata masih bermain gadget.

Solusinya, berkomunikasilah dengan baik. Jangan mengkritik atau menyalahkan anak, beritahu anak secara baik-baik, buat ia mengerti.

Media untuk melarikan diri[edit | edit source]

Banyak anak mulai menggunakan media sosial untuk melarikan diri dari tekanan sosial di sekitarnya, seperti masalah pribadi, tanggung jawab, rasa bersalah, kecemasan, dan Depresi. Contohnya, ketika anak mengalami hari yang buruk, ia akan lari kepada gadget, dan bukan orangtuanya.

Gangguan Jiwa Pada Anak[edit | edit source]

Peran para orang tua untuk membatasi waktu buah hatinya bermain gadget harus lebih serius. Bukan tanpa alasan, selama 2019 ini, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), ternyata sudah menangani tujuh anak dan remaja yang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan gadget alias gawai.

Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data RSJ milik Pemprov Kalsel itu pada 2018 hanya ada lima orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) pecandu gadget yang mereka tangani.

“Tahun lalu hanya satu yang dirawat inap dan empat rawat jalan, sementara tahun ini ada dua yang sempat dirawat inap dan lima dirawat jalan,” kata Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum, dr IBG Dharma Putra, sebagaimana dikutip dari Prokal.co (Jawa Pos Group), Jumat (18/10).

Sementara itu, dokter spesialis kejiwaan RSJ Sambang Lihum, Yanuar Satrio menerangkan, saat ini dua pasien gangguan jiwa pecandu gawai yang sempat dirawat inap sudah sembuh dan diperbolehkan pulang. Akan tetapi, masih harus minum obat secara teratur. “Dia seperti gangguan jiwa pada umumnya, kalau tidak minum obat maka akan kumat,” ucapnya.

Mengenai bagaimana kondisi para pasien saat baru dibawa ke RSJ, dia mengungkapkan, yang paling parah ialah anak berusia 14 tahun dari Tanah Laut yang sempat dirawat inap selama dua pekan. “Anak itu sudah sampai ke gangguan jiwa berat, karena sudah ada perubahan perilaku,” bebernya.

Perubahan perilaku yang dia maksud, pasien yang kecanduan ponsel tersebut sering mengamuk dan berhalusinasi mengikuti gaya-gaya karakter yang ada di game gadget yang sering dimainkannya. “Saya tidak tahu karakter game apa yang dia ikuti, yang jelas dia jadi mengamuk tidak jelas,” ujar Yanuar.

Karena sering mengamuk, lanjut dia, orang tuanya sampai-sampai tidak bisa lagi mengendalikan pasien tersebut. “Anak itu tidak bisa dilarang bermain gadget, kalau dilarang juga mengamuk. Tidak ada cara lain, orang tuanya membawanya ke RSJ,” ungkapnya.

Sedangkan untuk pasien pecandu gadget yang ringan, Yanuar menjelaskan, ciri-ciri sudah mengalami gangguan jiwa yakni merasa cemas jika tidak bermain ponsel. “Selain itu, mereka susah tidur dan sulit berkonsentrasi,” jelasnya.

Dia menuturkan, pecandu gadget yang mereka tangani selama ini usianya semuanya baru belasan tahun. Yakni, dari 13 tahun sampai 17 tahun. Kebanyakan berasal dari Banjarmasin, Banjarbaru, dan Tanah Laut. “Itu karena orang tua tidak mau membatasi penggunaan gadget untuk anak mereka, padahal menggunakan gadget untuk hiburan lebih dari 2 jam dalam sehari sangat tidak baik,” tuturnya.

Lalu bagaimana bisa manusia bisa kecanduan main gadget?

Yanuar menjelaskan, gim dalam ponsel sebenarnya mampu memacu otak. Jika otak terus dipacu, maka lama kelamaan akan lelah dan akhirnya menimbulkan rasa ketergantungan. “Tapi, kalau menggunakan gadget untuk keperluan pekerjaan tidak akan menimbulkan kecanduan. Yang bahaya itu dipakai untuk main game tanpa batasan waktu,” pungkasnya.

Kecanduan Handphone oleh Anak[edit | edit source]

Bocah laki-laki lebih rentan daripada perempuan

Kasus kecanduan ponsel pada anak-anak terus meningkat. Di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUD dr Soetomo, terjadi kenaikan signifikan pasien anak yang dinilai terlalu lekat dengan ponsel mereka. Sebelumnya, poli tersebut hanya menerima pasien baru 1–2 anak setiap minggu. Tetapi per Juni 2019, setiap hari datang 2–3 anak.

Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa RSUD dr Soetomo dr Yunias Setiawati SpKJ (K), para pasien tersebut datang bersama orang tua mereka. Orang tua mengeluhkan nilai anak-anaknya di sekolah yang merosot. Dugaan para orang tua itu, sang buah hati terlalu ”cinta” sama ponselnya.

Para pasien cilik itu datang dalam beragam kondisi. Misalnya, anak-anak yang sudah dalam kondisi adiksi akan malas melakukan hal-hal lain, termasuk belajar. Yunias mencontohkan salah satu pasien yang masih berusia 13 tahun Bocah lelaki itu malas-malasan belajar dan lebih memilih main HP. Hasilnya, nilai pelajaran sekolahnya merosot.

Ada pula pasien yang merupakan siswa kelas IX SMP. Dia kecanduan ponsel hingga memengaruhi tingkah lakunya. Perubahan tingkah laku tersebut berpengaruh pada tindakannya di sekolah. ”Dia sering uring-uringan hingga gampang terpicu dan berkelahi di sekolah,” terang Yunias.

Kisah berbeda dituturkan Bobbin Nila Prasanta Yudha. Keponakannya yang berusia 16 tahun disebutnya tidak bisa lepas dari HP. ”Dia menggunakan ponsel tersebut untuk bermain game online. Bisa sampai 3–4 jam nongkrong di warkop untuk wifi-an,” kata Boni, sapaan Bobbin.

Kalau tidak diingatkan untuk pulang, keponakannya akan terus bermain ponsel di warkop. Selain itu, warga Karah tersebut mengungkapkan, keponakannya kerap tidak memperhatikan jika diajak berbincang oleh orang lain. Juga cuek dengan pelajaran sekolah. ”Saya baru saja dapat kabar kalau dia sudah tidak meneruskan sekolah lagi,” papar Boni.

Yunias menyebutkan, kecanduan ponsel pada anak paling banyak dialami usia 8–17 tahun. Biasanya, mereka menggunakan ponsel untuk game, media sosial, atau menonton video.

Ada yang sudah terkategori obsesif kompulsif. Yakni, gangguan yang ditandai dengan pikiran negatif yang membuat orang merasa cemas, takut, dan khawatir jika tidak menggunakan ponsel. Sebagian besar pasien di RSUD dr Soetomo mengalami hal tersebut.

Sementara itu, ada juga yang telah mengalami gangguan pengendalian impuls. Yaitu, tidak bisa menghentikan keinginan menggunakan ponsel. Menurut Yunias, kasus itulah yang banyak terjadi. ”Jika setiap hari ada tiga pasien yang datang, dua di antaranya sudah mengalami gangguan pengendalian impuls,” jelasnya.

Anak laki-laki paling banyak mengalami kecanduan ponsel daripada perempuan. Itu tergambar dari para pasien yang dirawat jalan di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUD dr Soetomo. ”Laki-laki lebih sering mengalami kecanduan hingga perubahan tingkah laku bila dilarang menggunakan ponsel. Karena itu, laki-laki jika dibatasi keinginannya akan lebih ekspresif. Mereka cenderung meledak-ledak,” papar Yunias.

Untuk penanganannya, anak yang lebih agresif perlu diberi terapi obat-obatan. Selanjutnya, pasien mendapatkan modifikasi perilaku. Contohnya, membuat kesepakatan antara orang tua dan anak soal penggunaan ponsel. ”Misalnya, mengurangi durasi bermain ponsel. Seharusnya, anak-anak atau remaja tidak boleh menggunakan ponsel lebih dari dua jam per hari,” papar Yunias. Atau bisa juga memberikan batasan bahwa anak hanya bisa bermain ponsel saat akhir pekan.

Awalnya pasti sulit. Namun, hal itu tentunya harus dipaksa agar tidak semakin parah. Sebab, jika kondisinya sudah parah, pengobatan akan semakin susah. ”Pada dua minggu pertama pengobatan, anak akan mulai patuh. Sedangkan butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk bisa lepas dari ponsel. Itu pun jika modifikasi perubahan perilakunya dilakukan setiap hari,” tegas Yunias.

Ciri-ciri Anak Kecanduan Handphone[edit | edit source]

Ada 6 Ciri-ciri Anak Kecanduan Handphone
Bermain HP 6–8 jam per hari
Merasa cemas jika sebentar saja tidak memainkan HP
Bisa sampai mengamuk bila dilarang menggunakan HP
Kehilangan ketertarikan dengan dunia luar
Berbohong kepada orang tua mengenai lama penggunaan ponsel
Tidak merespons orang tua yang menyapanya

Kesimpulan[edit | edit source]

Agama sudah membuat anaknya malas belajar dan juga sudah merusak jiwa dan mentalnya anak. Jadi bukan handphone saja yang kecanduan tetapi juga pengaruh agama. Karena anaknya memiliki rasa toleransi yang sudah terlalu tinggi, bisa menyebabkan anaknya malas belajar. Sehingga anaknya harus ateis baru bisa ikut aturan orangtua. Dari awalnya, manusia sendiri yang menciptakan agama bukan agama yang menciptakan manusia.

Model Ateisme[edit | edit source]

Ada 5 Model Ateisme
Agama proyeksi diri manusia - Ludwig Feuerbach
Agama candu bagi masyarakat - Karl Marx
Tuhan telah mati - Friedrich Nietszche
Agama menurut kodrat psikologisnya merupakan ilusi kekanak-kanakan - Sigmund Freud
Apabila ada Tuhan maka manusia tidak bebas dan tak punya tanggung jawab - Jean-Paul Sartre

Masih Terdiskriminasi[edit | edit source]

Tantowi Anwari, Manager Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) mengungkapkan, orang-orang ateis dan agnostik di Indonesia masih terdiskriminasi.

Kaum ateis maupun agnostik di Indonesia tidak bisa bebas mengekspresikan keyakinan dan kepercayaannya, apalagi membahas mengenai agama dan Tuhan.

Bahkan, beberapa di antara mereka mengalami persekusi, pun dipidana. Itu seperti kasus PNS bernama Alexander Aan di Sumatera Barat tahun 2012.

Aan dipidana hingga mendekam di penjara hanya karena menulis pada akun Facebook tentang ‘Tuhan itu tidak ada’.

Sang PNS dijerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, terutama tentang penodaan agama.

Kemudian pada Juli 2017, hal yang sama juga dialami dokter Otto. Ia dipenjara karena menulis status yang dianggap menodakan agama dengan dijerat UU ITE.

“Tidak mudah bagi mereka kalau identitasnya diketahui publik. Khususnya soal identitas mereka yang tidak beragama,” kata Tantowi.

Thowik, begitu ia akrab disapa menjelaskan, komunitas ateis dan agnostik giat melakukan edukasi terhadap masyarakat untuk melawan stigma, salah satunya secara daring.

Seperti seorang ateis berkebangsaan Pakistan yang menulis buku dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul “Sang Muslim Ateis”.

Melalui buku itu, ia mengatakan, orang yang tak beragama harus diperlakukan sama dengan warga lainnya oleh negara.

SEJUK, kata Thowik, sangat menyayangkan praktik persekusi maupun kriminalisasi terhadap orang ateis karena mengkritik agama dan tidak percaya Tuhan.

Padahal, Thowik bersaksi, komunitas ateis di Indonesia cukup banyak membantu orang-orang yang terdiskriminasi oleh hukum.

Tak hanya membantu sesama ateis, tapi juga kelompok minoritas lain seperti kaum spiritualis di Banten yang dikriminalisasi karena dianggap sesat.

Diperkirakan 10 Ribu Orang[edit | edit source]

Soal maraknya kasus kriminalisasi terhadap ateis di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Direktur Riset SETARA Institute, Ismail Hasani menilai terjadi salah kaprah orang-orang soal hukum nasional.

Ia menegaskan, ateisme dan agnostisisme tidak diatur dalam produk hukum positif Indonesia. Karenanya, orang yang menganut dan meyakini ateisme atau agnostisisme tidak bisa diadili secara hukum.

Pemidanaan terhadap orang ateis di Indonesia, seperti Aan di Sumbar dan dokter Otto di Balikpapan pun bukan karena keyakinan mereka, melainkan dikriminalisasi lewat pasal-pasal penodaan agama UU ITE.

“Kasus Aan, dia dipidana bukan statusnya sebagai ateis, namun kebebasan berekspresinya dipasung dengan pidana lewat UU ITE,” tegas Ismail.

Soal jumlah populasi ateis maupun agnostik di Indonesia, belum ada angka pasti. Bahkan pemerintah sendiri tidak memiliki data tersebut.

Namun, Ismail menaksir jumlah ateis dan agnostik di Indonesia terbilang banyak untuk ukuran kelompok minoritas, yakni lebih dari 10.000 orang.

“Sebenarnya tidak ada angka pasti, sampai sekarang belum ada yang melakukan survei soal itu. Angkanya menurut saya 10.000 sampai 15.000 orang ada, itu pun dari jumlah komunitas-komunitas yang berhimpun,” ungkapnya.

Bertentangan dengan Pancasila?[edit | edit source]

National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg

Ismail menuturkan, sejumlah kalangan menilai ateis dan agnostik bertentangan dengan ideologi negara, yakni Pancasila. Sebab, sila pertama tertulis adalah Ketuhanan yang Maha Esa.

Namun, menurut Ismail, itu adalah tafsiran politis. Dia menilai ateis itu tidak melanggar hukum di Indonesia.

Secara teoritik, anggapan setiap warga Indonesia harus beragama adalah hasil pihak-pihak yang menafsirkan sila-sila dalam Pancasila secara hirarkis.

Dalam tafsiran kelompok seperti itu, setiap warga Indonesia harus bersikap sama persis dengan kelima sila dan saling terkait alias tak bisa dipisah-pisahkan.

“Pengamalan Pancasila secara hirarkis atau tidak, adalah tafsiran politik. Kalau saya menilai, semua sila Pancasila itu setara, tak ada yang harus didahulukan. Artinya, warga tidak harus selalu mengacu pada sila pertama.”

Terkait maraknya aksi-aksi dan sikap intoleransi di Indonesia, Ismail menilainya sarat kepentingan politik.

Menurutnya, pengusung politik intoleran sengaja mengembangkan aksi-aksi untuk menguasai ruang publik.

“Apa pun selalu mereka pertentangkan secara diametris, demi untuk menguasai ruang publik,” keluh Ismail.

Sudah Ada Sejak Lama[edit | edit source]

Direktur Eksekutif INDEKS, Nanang Sunandar mengungkapkan, ateis sebagai kepercayaan sudah ada di Indonesia sejak era awal kemerdekaan.

Bahkan Presiden pertama RI Soekarno pernah menyebut secara kelompok ateis dalam sebuah pidatonya. Karenanya, sejak dulu, kelompok ateis hidup aman di Indonesia.

“Ateis sebagai sebuah kepercayaan, sebenarnya sudah lama ada di Indonesia. Bahkan sebelum kemerdekaan, menjadi ateis di Indonesia jauh lebih aman dari sekarang,” kata dia.

Berdasarkan survei Indeks, populasi ateis di Indonesia pada 2004 sekitar 0,67 persen. Persentase itu tampak kecil.

Namun, kalau diperbandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, angka itu cukup signifikan untuk sebuah kelompok minoritas.

“Kalau dilihat dari jumlah penduduk Indonesia, angka 0,67 persen itu signifikan dibandingkan dengan kelompok minoritas lain, seperti Kejawen, Sunda Wiwitan dan sebagainya. Jadi memang penting, posisinya sebagai warga negara dalam konteks Indonesia dengan segala haknya,” tambah dia.

Nanang menyanggah anggapan orang banyak yang memandang ateis tidak bermoral. Menurutnya banyak ateis yang baik, meski tak menutup kemungkinan ada pula yang jahat.

“Ukuran moral orang ateis adalah rasionalitasnya. Yang saya kenal, banyak di antara mereka orang baik,” ucapnya.

Dia menambahkan, orang ateis masih mengalami diskriminasi oleh negara. Hal itu tampak dari regulasi yang ada, seperti untuk menjadi seorang pejabat negara harus disumpah.

“Banyak regulasi yang menghambat seorang ateis di Indonesia. Seperti dalam sumpah jabatan, ada kata-kata ‘demi Tuhan’, itu jelas diskriminatif bagi mereka. Sebab orang ateis tidak akan bisa menjadi pejabat publik,” ujar dia.

Menurut dia, tugas negara dalam menjamin hak warga, harus bersandar pada prinsip keadilan. Negara tidak boleh memaksakan kebijakan yang merenggut hak warga lainnya.

“Jadi Pancasila dan ateisme tidak seharusnya dilihat sebagai hal yang bertentangan,” kata penerjemah buku “Sang Muslim Ateis” karya Ali Arisvi—seorang mantan muslim berdarah Pakistan ini.


Bookmark-new.svg

Sumber[edit | edit source]

Berita yang berasal dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, atau surat kabar dari Indonesia ini bukan merupakan pelanggaran hak cipta karena Undang-Undang Republik Indonesia nomor 19 tahun 2002 pasal 14 huruf c menyebutkan bahwa : "Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta: Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita, Lembaga Penyiaran, dan surat kabar atau sumber sejenis lain, dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap."