Wn/id/DKK Balikpapan: Pendatang memicu penyebaran HIV

From Wikimedia Incubator
< Wn‎ | idWn > id > DKK Balikpapan: Pendatang memicu penyebaran HIV
Jump to navigation Jump to search

Selasa, 14 Mei 2013

DKK Balikpapan menyatakan bahwa pendatang menjadi faktor pemicu meningkatnya pengidap HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS tercatat sudah mencapai 621 jiwa, separuh lebih (60%) diantaranya sudah merambah kalangan ibu rumah tangga.

Dalam pernyataannya kepada wartawan Koran Kaltim, Pimpinan DKK Balikpapan mengatakan: “Jumlah kematian tahun ini ada tiga orang jika dihitung dari awal Januari kemarin.” Grafik jumlah pengidap HIV/AIDS pun diyakini akan semakin meningkat dari tahun ke tahun berikutnya. Pada awal tahun 2012 lalu, jumlah pengidap HIV/AIDS tercatat sebesar 300 jiwa, kemudian bertambah menjadi 575 jiwa di bulan November 2012 dan meningkat lagi menjadi 606 jiwa pada tanggal 21 Januari 2013.

Selain itu, masih banyak, pengidap HIV/AIDS yang malu dan tidak melaporkan dirinya ke kantor Dinas Kesehatan kota Balikpapan.

“[Langkah] paling mudah dan murah untuk mencegah penyebaran itu adalah menggunakan kondom. Tapi nyatanya masih banyak yang tidak mau menggunakannya", kata Dyah selaku kepala DKK Balikpapan.

Kepala DKK Balikpapan juga menjelaskan "Penggunaan kondom masih kurang, banyak stok dari pusat yang diberikan sudah kadaluwarsa. Karena memang tidak banyak peminat yang meminatnya. Sampai hari ini kami mencari solusinya, untuk memaksimalkan pencegahan dengan menggunakan kondom".

Penyebaran virus HIV paling banyak melalui hubungan seksual, dan dalam beberapa pekan terakhir tren menunjukkan peningkatan pada kalangan ibu rumah tangga. Tiga balita juga ikut menjadi penderita HIV/AIDS dikarenakan faktor keturunan; rentang usia penderita HIV/AIDS semakin muda yakni sejak umur 20 tahun hingga 40 tahun, padahal dulunya rentang usia penderita mulai 25 tahun hingga 60 tahun.

Di Balikpapan tiga rumah sakit yang menjadi rujukan bagi penduduk pengidap HIV/AIDS, yakni Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RS Umum), Rumah Sakit dr. R. Hardjanto (RS Tentara) dan Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB).


Sister links[edit]

Sources[edit]