Wb/nia/Manu Harazaki
AYAM AJAIB Di seberang tiga kali sembilan negeri, di kerajaan yang kesepuluh—bukan di negeri kita—hiduplah dahulu seorang kakek dan nenek dalam kemiskinan yang sangat. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki yang masih kecil dan belum mampu bekerja di ladang. Karena itu, sang kakek bekerja sendiri, mengurus semuanya, bahkan mengawasi para buruh. Namun, hasilnya hanya cukup untuk mendapatkan beberapa keping uang saja. Suatu hari, ketika pulang, ia bertemu seorang pemabuk yang membawa seekor ayam.
“Maukah kau membeli ayamku, Pak Tua?” “Berapa harganya?” “Lima puluh kopek.” “Tidak, ambillah saja uang receh ini. Itu cukup untukmu membeli minuman.”
Pemabuk itu setuju dan menyerahkan ayam tersebut. Kakek itu pulang. Di rumah, tidak ada makanan sedikit pun.
“Ini, aku membelikan ayam,” katanya kepada istrinya. Namun istrinya marah besar. “Kau ini bodoh! Anak-anak kita kelaparan, dan kau malah membeli ayam yang harus diberi makan!” “Diamlah,” kata si kakek. “Ayam ini akan bertelur, lalu kita bisa menjual anak-anaknya dan membeli roti.”
Keesokan paginya, mereka menemukan sesuatu yang luar biasa: ayam itu bertelur… bukan telur biasa, melainkan permata berwarna indah!
“Bagaimana ini?” tanya kakek. “Bawalah ke kota,” jawab istrinya.
Di kota, permata itu akhirnya terjual seharga lima ratus rubel. Sejak saat itu, ayam itu terus bertelur permata, dan si kakek menjadi kaya. Ia membuka toko, mempekerjakan orang, bahkan mengirim barang ke negeri-negeri jauh. Suatu hari ia hendak bepergian dan berpesan kepada istrinya, “Jagalah ayam itu seperti matamu sendiri!” Namun, setelah ia pergi, sang istri berbuat jahat. Ia bersahabat dengan seorang pemuda pekerja di rumah itu. Pemuda itu menemukan tulisan emas di bawah sayap ayam:
“Siapa yang memakan kepala ayam ini akan menjadi raja, dan siapa yang memakan hatinya akan memuntahkan emas.”
Ia menyuruh si istri memasak ayam itu. Dengan ragu, akhirnya ayam itu dimasak. Tetapi sebelum makan malam, kedua anak laki-laki mereka pulang dari sekolah, melihat hidangan itu, dan diam-diam memakannya: yang sulung memakan kepala, yang bungsu memakan hati. Saat makan malam, pemuda itu marah karena bagian penting hilang. Ia menyuruh si ibu membunuh anak-anaknya untuk mengambil hati dan otak mereka. Dengan kejam, si ibu memerintahkan juru masak membawa anak-anak ke hutan untuk dibunuh. Namun di hutan, anak-anak itu memohon belas kasihan. Si adik bahkan mengeluarkan emas dari mulutnya sebagai imbalan. Juru masak pun membiarkan mereka hidup dan menggantinya dengan anak anjing. Kedua anak itu pergi mengembara. Di persimpangan jalan, mereka membaca tulisan:
“Ke kanan akan mendapat kerajaan. Ke kiri akan mendapat kesengsaraan, tetapi menikahi putri cantik.”
Mereka pun berpisah. Si kakak pergi ke kanan dan tiba di sebuah kota yang sedang berduka. Raja mereka wafat, dan diumumkan bahwa siapa yang lilinnya menyala sendiri di katedral akan menjadi raja. Lilin si kakak menyala terang—ia pun menjadi raja. Si adik pergi ke kiri, mencari seorang putri yang sangat cantik tetapi licik. Ia hanya mau menikah dengan orang yang mampu memberi makan tentaranya selama tiga tahun. Si adik mampu melakukannya karena ia dapat mengeluarkan emas dari mulutnya. Namun, putri itu menipunya. Saat ia sakit dan memuntahkan hati ayam, sang putri memakannya dan sejak itu dapat mengeluarkan emas. Ia lalu mengusir si pemuda. Pemuda itu mengembara lagi hingga bertemu tiga orang yang berebut tiga benda ajaib: tong yang mengeluarkan pasukan, karpet terbang, dan cambuk ajaib. Dengan kecerdikannya, ia memperoleh semuanya. Ia kembali ke kerajaan sang putri, memanggil pasukan dari tong, dan mengepung kerajaan. Putri itu ketakutan. Saat datang memohon damai, pemuda itu mengubahnya menjadi kuda dengan cambuk ajaib. Ia kemudian pergi ke kerajaan kakaknya, bertemu kembali, dan akhirnya kembali ke rumah orang tuanya. Dalam sebuah pesta besar, ia menceritakan seluruh kisahnya. Ibunya berkali-kali menyela, hingga akhirnya kebenaran terungkap. Sang ayah marah besar dan menghukum ibu yang kejam serta pemuda jahat itu. Akhirnya, si adik mengubah kuda itu kembali menjadi putri. Mereka berdamai, saling memaafkan, dan menikah dengan pesta yang megah. Konon, aku pun hadir di pesta itu. Aku minum madu hingga membasahi janggutku—tetapi tak setetes pun masuk ke mulutku.
Nitöngöni
[edit | edit source]Omuso dödögu na öfazaewe nidunö-dunö andre ba media sosial ma Internet. Hiza i be'e fao gumbu heza tehalö ia. Be ba gahe zura: Moroi ba Wikibuku Nias. Nifa'anö Apolonius Lase. Aila ita ba niha na lö öbe'e gumbunia, me öhalö töiu zi tenga töiu.
Fabaliŵa lala
[edit | edit source]Bale zato: Olayama • Angombakhata • Bawagöli zato • Monganga afo • Nahia wamakori • Nga'örö spesial • Ngawalö wanolo • Safuria tebulö • Sanandrösa • Sangai halöŵö